PostHeaderIcon Fakultas Hukum Universitas Narotama Tanamkan Awareness Keamanan Informasi dan Data Pribadi Lewat Seminar

Perkembangan teknologi mengiringi perkembangan informasi di era digital. Informasi menjadi sangat mudah didapatkan, terutama dari internet. Dalam dunia media informasi digital, rentan terjadi penyalahgunaan data-data sehingga menimbulkan berbagai masalah, seperti pengancaman, penculikan, hacking, cracking, pencurian data, dan lain sebagainya.

Hukum sebagai pedoman hidup di dalam masyarakat pun berusaha menyamai perkembangan dengan memberikan berbagai macam bentuk perlindungan yang tersebar di dalam setiap peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pengetahuan mengenai perlindungan hukum untuk data pribadi di dunia digital ini patut dimiliki oleh semua orang. Fakultas Hukum Universitas Narotama pun berusaha untuk mengupasnya secara tuntas dalam seminar “Perlindungan Hukum Data Pribadi dan Awareness Keamanan Informasi”, Sabtu (14/7/2018).

Seminar tersebut mendatangkan dua orang narasumber ahli, yaitu akademisi dan pakar hukum siber Universitas Narotama Surabaya, Dr. Nynda Fatmawati S.H., M.H, serta praktisi teknologi dan komunikasi Kota Surabaya, Moh. Noor Al Azzam, S.Kom., M.MT, dengan moderator dosen Fakultas Hukum Universitas Narotama, Tahegga Primananda Alfath, S.H., M.H.

Nynda menekankan penjelasan pada keamanan ruang pribadi dan publik yang sudah sangat tipis perbedaannya sejak adanya media sosial. Media sosial, menurut Nynda, seharusnya menjadi media komunikasi yang menghubungkan satu orang dengan orang yang lainnya. Apapun yang dibagikan seseorang di media sosial, meskipun itu di akun pribadi milik mereka, tetap termasuk ranah atau konsumsi publik.

“Ketika apapun yang kita unggah di akun media sosial pribadi kita, sudah masuk ranah publik. Maka seharusnya kita tidak bisa membela diri ketika apa yang kita unggah atau kita katakan itu menjadi bahan pemberitaan,” ujarnya.

Sedangkan menurut Azzam, semua yang kita unggah di akun pribadi media sosial kita diibaratkan seperti kita sedang berteriak di depan rumah kita sendiri. “Memang kita ada di rumah, tapi kita berteriak di depan. Lalu orang-orang yang tidak sengaja lewat pun akhirnya tahu apa yang kita teriakkan atau kita tunjukkan,” jelasnya.

Pada para peserta seminar, Azzam juga menceritakan sejarah terciptanya internet di masa perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet pada tahun 1970-1980an. Internet dibuat oleh Departement of Defense Amerika Serikat agar penyimpanan data tidak lagi harus disentralkan di suatu lokasi karena rawan diserang pemusnahan oleh musuh. Maka dibuatlah protokol komunikasi independen. Sehingga jika salah satu kota mati, protokol komunikasi tersebut bisa mencari sendiri kehidupan di kota lain. Itulah yang menjadi asal mula internet.

 

[HUMAS UNIVERSITAS NAROTAMA]

Leave a Reply